Cikarang – Peserta seminar di Auditorium
Charles Himawan, President University, tercekat. Mereka mungkin tidak
pernah menyangka akan ditemukan botol-botol plastik berisi air kencing
di lingkungan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil)
Kabupaten Bekasi. Ini adalah sebagian fakta yang ditemukan para
mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi (Prodi Ilkom), President
University yang melakukan observasi di Disdukcapil.
Botol-botol berisi air seni itu
diperkirakan berasal dari warga yang datang sejak dini hari –sebagian
mengaku datang pukul 04.00—ketika kantor belum buka. Mereka datang
sangat awal untuk mendapatkan nomor antrean yang paling kecil.
Tak hanya itu, para mahasiswa juga
berhasil merekam sejumlah fakta lain seperti pelayanan di loket yang
tidak selalu dimulai tepat waktu dan sejumlah keluhan warga yang
mengurus KTP, kartu keluarga maupun akte kelahiran. Temuan-temuan
tersebut dipaparkan dalam seminar Jaminkan Kualitas Pelayanan (Jasa),
Kamis (18/2/2016) yang dihadiri warga dan mahasiswa.
Menurut Guritno Soerjodibroto,
temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa terdapat sejumlah aspek dalam
stanbdar pelayanan minimal yang belum dipenuhi oleh Disdukcapil
Kabupaten Bekasi. Meski demikian, pemerhati kebijakan publik itu
menyebut Disdukcapil belum tentu layak disalahkan sepenuhnya.
“Ada politik dalam penentuan anggaran.
Bisa jadi Disdukcapil sudah meminta anggaran untuk peningkatan
pelayanan, namun belum dikabulkan sepenuhnya karena dinas ini dianggap
“kurang seksi”. Biasanya yang mendapat anggaran yang lebih tinggi adalah
dinas yang “lebih seksi” atau lebih menghasilkan seperti dinas
pendapatan atau dinas penanaman modal,” kata Guritno.
Guritno meminta mahasiswa President
University melakukan sejumlah kegiatan atau menulis yang secara tidak
langsung menyadarkan Pemkab Bekasi bahwa Disdukcapil penting. “Bukan
hanya penting bagi masyarakat, namun juga penting bagi “nasib” figur
yang sedang memimpin,” katanya.
Ade Ismail, Sekretaris Disdukcapil yang
datang mewakili kepala dinasnya mengakui fasilitas di dinasnya belum
memadai. Menurut dia, hal itu karena Disdukcapil yang melayani seluruh
warga Kabupaten Bekasi hanya mendapat jatah 1 lantai saja, padahal tiap
harinya melayani ratusan orang.
Sementara, Anathasia Citra menyoroti
pentingnya komunikasi baik di pihak staf yang memberi layanan maupun
masyarakat yang meminta (menerima) pelayanan. Ahli komunikasi dari Prodi
Ilmu Komunikasi President University itu menekankan pentingnya
pemilihan bahasa dalam pemberian layanan maupun saat meminta pelayanan.
“Misalnya, ketika staf mengatakan ‘mana
KTP-nya?’ pasti akan berbeda dengan bila ia mengatakan, “Maaf, dapatkah
saya melihat KTP Bapak?’,” kata Thisi, panggilan akrab Anathasia.
Selain kualitas komunikasi staf dan
perangkat layanan, aspek teknologi informasi juga dapat ditingkatkan
untuk memberikan pelayanan yang lebih baik. Nurhadi Sukmana, Kaprodi IT
President University memaparkan beberapa langkah yang bisa dilakukan
agar layanan Disdukcapil makin berkualitas.
“Seminar ini adalah bagian dari program
pengabdian kepada masyarakat (PKM) Prodi Ilmu Komunikasi President
University. Seminar dilakukan setelah mahasiswa melakukan observasi
tentang kualitas layanan Disdukcapil dan melakukan kampanye sosialisasi
tentang KTP elektronik di beberapa tempat di Cikarang. Semoga melalui
seminar ini Disdukcapil makin meningkat kualitasnya dan warga makin
terinformasi tentang jenis dan syarat layanan yang diberikan
Disdukcapil,” kata Achmad Supardi, ketua panitia seminar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar